Tangga Turun

Cerpen Rangermerah

Kerumunan orang berbaju hitam itu perlahan pergi dengan isaknya. Aku bahkan tak mau beranjak dari tempat ini, bahkan gelapnya malam tak akan mengusikku. sesosok wanita didekatku menarik bajuku. Perlahan berkata, “cukuplah uda” walau Dengan air mata yang perlahan mengering diantara hidung dan pipinya. Aku hanya menoleh, dan tak kuasa menahan kesedihan, namun dia tetap menatapku dengan wajah serius.

“Hidungmu sama dengannya, lancip ke depan” ujarku pada sosok itu. Gadis itu mulai tersenyum sambil berkata “aku kan adiknya uda, usah lah uda meratap terus. yuk kita jalan meninggalkan tempat ini. Uni mungkin tidak mau melihat uda berperilaku seperti itu. Ikhlaskan saja uda! Ira juga sudah ikhlas uni dipanggil yang maha kuasa.” Perlahan aku mulai terbujuk. Dengan jalan perlahan aku dan Nadira meninggalkan pemakaman ini, dan bergegas menuju rumah.

Sesampainya dirumah, Jasmine keluar kamar memelukku erat, dia masih sedih ibunya telah tiada. Aku menggendongnya dan berusaha menenangkannya. Beberapa lama kemudian ayah mertuaku memintaku untuk beristirahat sejenak. Memang menangis menguras energi apalagi hati. Tidak serta merta bisa diobati dengan segelas kopi maupun hal apa pun menyangkut hobi. Aku hanya patuh, dan segera beristirahat dikamar tamu yang sengaja disiapkan. Terbayang saat itu aku masih berasa di nagoya sedang melakukan presentasi kepada calon pemegang saham perusahaan kami.

 “President Director of Chemical Industries Mr. Matsuda, saya merasa sangat tersanjung dengan pencapaian yang anda lakukan. Mengembangkan perusahaan kimia membutuhkan investasi yang besar, belum lagi kepercayaan dari karyawan anda membuat anda besar hingga saat ini. Tentunya itu tidak terlepas dari peran leadership anda membawa perusahaan anda mencapai taraf yang lebih tinggi. Terima kasih juga telah mengundang perusahaan kami untuk bertemu dengan anda” salam saya kepada Mr. Matsuda mantan presdir bio Chemical Industry Tanka Nagoya.

“Jangan berlebihan Mr. Harris, saya hanya mantan direktur yang saat ini duduk manis menikmati taman berdampingan dengan cucu saya yang saat ini duduk dibangku Taman kanak-kanak. Langsung saja ke intinya supaya nanti kita bisa menikmati suguhan teh tradisional dengan melirik taman bunga yang saya pelihara.” Dijawab dengan begitu humble oleh Mr. Matsuda.

“baik pak, perusahaan kami bergerak dibidang energi terbarukan, dimana kami membutuhkan panel surya dengan ketebalan yang tipis sehingga kami bisa memasangnya sesuai dengan konstruksi rumah bagonjong yang ada di daerah kami. Namun terkait dengan harganya yang terlalu tinggi, mau tidak mau kami membuka perusahaan kami untuk para investor. Dan kami sangat bersyukur atas kesediaan Mr. Matsuda memenuhi undangan, maksud saya mengundang kami untuk datang menjamu bapak di Nagoya”

Pembicaraan hangat berlanjut, dan aku dan sekretarisku justru diajak jalan-jalan mengelilingi taman Mr. Matsuda yang luasnya hampir setengah lapangan bola. Namun aku tak sengaja meninggalkan ponselku diruang tamu saat aku berjalan-jalan ke taman itu. Saat tak terduga, beberapa kali telefon ku berdering, seorang pelayan Mr. matsuda yang berada disana sengaja tidak mengangkat telefon tersebut.

Menjelang sore hari berkeliling di taman, aku pamit pada Mr. matsuda dan segera bergerak menuju ruang pertemuan. Mr. Matsuda menawarkan untuk makan bersama namun aku menolak. Aku melihat beberapa notifikasi interlokal dari adik iparku di Sumatera Barat. Dengan perasaan yang mulai gundah sore itu, di perjalanan menuju hotel, aku mencoba menelefon Nadira beberapa kali. Namun tidak juga di angkat. Aku menekan kontak istriku Firdha, dia mungkin ada dirumahnya sekarang. Namun, tetap tidak diangkat. Saat itu aku mulai merasa ada sesuatu yang janggal, khawatir dan juga perasaan cemas tak menentu. Sekretarisku mencoba menenangkanku di mobil, berkata pelan “semuanya baik-baik saja pak”

Sesampainya di hotel, tanpa pikir panjang aku langsung ke kamar. Meninggalkan sekretarisku yang terdiam tak bisa bicara banyak. Mungkin dia mau mengajakku duduk sejenak di restoran, berbicara tentang kekhawatiran atasannya. Di kamar, aku menyegarkan diriku dengan mandi air hangat di bathub hotel, mencoba merenung apa yang sedang terjadi. Tiba-tiba telefonku berbunyi lagi, dengan hanya memakai handuk  aku lari ke kamar. Telefon itu dari Nadira, aku bergegas menjawab:

“Halo” jawabku

“uda” dia memanggilku dengan suara yang isak. “Ada apa Nadira?” jawabku sambil mengenakan pakaianku. “… kakak….. ….., kakak Firdha sudah tiada….” Nadira melanjutkan tangisannya.

Daguku bergetar, lidah begitu terasa kelu, sesekali aku memejamkan mata tak kuasa menahan tangisan. Nadira Kembali melanjutkan kata-katanya “uni tiba-tiba pergi dengan membawa berkas-berkas administrasi kantornya, “nanti jam 2 jemput Jasmine ya Nad” pungkasnya. Setelahnya dia begitu saja menekan gas motornya meninggalkan rumah.

Nadira menjelaskan kronologi kecelakaan kakaknya hingga menyebabkan kakaknya meninggal dunia. Dia tidak hentinya menangis namun tetap saja dia harus menceritakannya padaku. Aku pun tak serta menanggapinya dengan lapang dada, dan aku hanya diam tak bersuara.

Aku menjanjikan pada Nadira akan pulang besok, walaupun aku masih ada urusan di Nagoya. Searching mencari tiket namun yang ada hanya penerbangan jam 7 malam. “Sial” teriakku dengan kesal namun masih tak mampu menghentikan air mata ini. Aku menelefon sekretarisku mencoba dia mencarikan tiket pada jam lain, namun hanya ada jam itu.

“Nadira, pemakamannya dipercepat saja, aku hanya bisa sampai tengah malam besok karena hanya ada 1 tiket pesawat untuk besok” pungkas ku. Nadira manggut dan bertanya perihal apakah aku sudah bisa terima atau tidak, jujur aku belum mampu.

Badanku mulai terasa lelah, penerbangan dari nagoya memakan waktu 8 jam, aku sampai ke padang jam 2 pagi, beristirahat dirumahku dan paginya aku segera ke pemakaman. Dalam hati asa rasa yang tak kunjung hilang dan bahkan menyesal tidak mengantar istriku di hari terakhir nya di pemakaman.

Aku terbangun dari tidur siang, aku keluar dari kamar, aku melihat ayah mertuaku duduk kembali bekerja. Dia menyapaku dan menyuguhkan teh hangat. Kami bercerita panleba, mungkin itu yang membuat beliau menerima keadaan ini. Beliau memberi isyarat jika aku kembali membuka hati untuk orang baru “carilah orang seperti dia.”

“Mungkin aku butuh waktu untuk membuka hati. Wanita seperti Firdha sangat sulit kutemui. Terlebih sebagai single parent memang bukan hal mudah bagi pria sepertiku yang masih membangun perusahaan.” Aku berdiri dan menggendong Jasmine dan mengajaknya jalan-jalan keluar.

*

4 bulan berlalu Jasmine sudah tumbuh menjadi anak yang belajar banyak hal di sekolah dasar. Dia anak yang pendiam dan tidak banyak bicara, namun dia pintar seperti ibunya. Sikapnya lebih dominan ibunya daripada ayahnya. Tapi untuk urusan wajah, lebih dominan sang ayah.

Menjadi duda dikala anak masih kecil bukan hal mudah, menyiapkan baju sekolah sampai perbekalan, menjemputnya sepulang sekolah, menemani bermain, sampai menemani rewelnya dimalam hari. Ingin rasanya aku meminta jasa pembantu rumah tangga. Tapi karena aku sangat menyayanginya maka biarlah hal ini aku lakukan sendiri.

Sering beberapa kali tantenya datang berkunjung, kadang membawa banyak makanan dan bermain bersama. Nadira juga sudah dewasa, setelah lulus kuliah dia lebih banyak aktif menggeluti hobinya mendesain fashion wanita. Beberapa kali dia ikut pameran Kota Padang, kadang kala juga juara. Aku sempat menawarkan untuk bikin butik.

Kepadatan pekerjaan kantor membuatku juga sering membawa Jasmine pergi kantor, kapan perlu dia belajar disana saja. Tapi namanya juga anak-anak, dia lebih sering bermain disana. Anak bosku pak Rahmad, juga sering bawa anaknya, Intan. Mereka berdua sering main bareng terlebih intan begitu perhatian pada Jasmine, dan intan sudah menganggap Jasmine sebagai adiknya.

Tifa, pegawai pengganti sekretarisku yang resign karena mau meniti kehidupan barunya bersama pengusaha sawit asal Medan. Tifa secara adalah gadis kalem, berbeda dengan yang lama lebih tegas dan rasional. Sikapnya yang cenderung tsundere*/malu-malu kucing lebih disenangi banyak karyawan kami. Belum lagi kemampuan adaptasinya bagus, dan cenderung mampu berbaur dengan karyawan lainnya.

“tadaaa… Ini untuk Jasmine, dan ini untuk kakak intan” tifa memberikan segelas susu

“makasih ante” pungkas Jasmine dan intan girang.

“Ante, mau ya temani Jasmine dirumah” sapa Jasmine sedikit memelas

“iya, nanti ante temani, iya kan ayah” jawab tifa hangat sembari mengarah pembicaraan kepadaku

“temani tidur juga” pungkas Jasmine lagi

Tifa mulai salah tingkah, dia tidak bisa menjawab pertanyaan Jasmine yang sedikit mengarah pada hubungannya dengan atasannya itu. Aku mencoba tetap tenang dan mengiyakan pertanyaan Jasmine.

Tifa pamit menuju kembali keruangannya, dia hanya sedang kebingungan. Tifa suka membaca, hampir 35% dari kesehariannya adalah membaca buku. Di bagian sudut ruangan terdapat buku tentang “bagaimana mendekati duda yang mempunyai anak”

Tidak terasa hari menunjukkan jam 3 siang, itu tandanya harus beres menuju rumah. Aku menggendong Jasmine, walaupun dia sudah bisa berjalan. Mungkin dia anak satu-satunya dariku, dan juga Firdha. “ayah, nanti kita mampir ke toko buku ayah” tanyanya sambil digendong.

“Iya sayang, Jasmine mau beli buku apa?” jawabku sambil mengelus halus rambutnya.

“Buku gambar hihihi” jawabnya cengengesan

“oiya, buku kemarin sudah habis ya, yuk, kita jalan dulu aja” jawabku sambil mencium pipinya

“Ciee …. Anak ayah… “ ledek karyawan kantor kompak

Menuju ke ruangan atasan untuk ambil hardrive, Tifa keluar dan berencana untuk mengajak atasannya makan-makan. Namun bersamaan dengan itu Nadira datang.

“Ante” Jasmine berteriak kencang kegirangan. ia ingin segera melompat menuju tantenya.

“Jasmine… Lucu banget bandonya, siapa yang kasih” tanya Nadira

“Itu tante Tifa… kemarin dia kasih aku surprise untuk aku dan kakak Intan”

Nadira memandang ke arah Tifa sambil tersenyum namun dalam hati ada rasa berkecamuk. Begitu pun juga Tifa yang sepertinya dia merasa ada aura persaingan antara dia dan Nadira.

“Nadira, tumben menyusul ke kantor. Eh kenalin ini Tifa, sekretaris ku yang baru.” Aku memulai percakapan. Mereka pun saling senyum dan bersalaman, namun terasa sudah ada aura yang berbeda antara mereka berdua.

“Empat bulan lalu sekretarisku resign karna ikut suaminya katanya. Jadi ketika lowongan dibuka Tifa yang saya rekrut” lanjutku

“Uda, papa sore ini mengajak makan. Dia kangen sama Jasmine” Nadira to The point

“Oke, tapi abis beli buku gambar ya” Nadira mengangguk lalu setelahnya aku pamit pada tifa, dan kami keluar gedung menuju mobil karena juga mau barengan.

Sesampainya di sebuah restoran ternama Padang, Jasmine semangat bertemu kakeknya. Sudah hampir sebulan ini dia tidak bertemu sang kakek. Berbeda dengan antenya yang tiap minggu datang berkunjung ke rumah.

Suasana gembira Jasmine bertemu kakek dan neneknya sembari haru menahan rasa rindu teramat dalam kepada Firdha, ibu dari Jasmine sendiri. Kita bercengkerama bersama lebih dari dua jam. Suasana hangat, semua obrolan tentang Jasmine. Semua kasih sayang dan perhatian kami tercurahkah ke Jasmine.

“Nadira, ajak Jasmine main foto-foto dulu ya” ujar ayahnya kepada Nadira.

Nadira pun mengangguk, dia sangat senang bermain dengan ponakannya tersebut. Ibu Nadira yang sadar kode dari suaminya turut mengikuti Nadira dan Jasmine. Sepeninggal mereka, ayah mertua ku berbicara 4 mata kepadaku.

“Bagaimana keadaanmu” bukan berkata basa basi lagi

“Sepertinya aku nyaman di kondisi ini, membesarkan Jasmine seorang diri, susah senang tetap ku nikmati” ujarku santai

“Tidak, maksud bapak, apakah kamu sudah buka hati untuk ibu baru Jasmine?”

Aku terbatuk mendengar hal itu, selama ini belum terpikir bagiku untuk mencari ibu baru bagi Jasmine. Selama ini aku tidak mengalami kesulitan merawat Jasmine seorang diri. Namun ketika ditanya soal itu aku jadi gelagapan tidak banyak bicara.

“Belum terpikir bagiku pa, aku hanya takut kalau Jasmine tidak menerima ibu barunya”

“Lihat, kenapa haris tidak lihat kedekatan Nadira dengan Jasmine? mereka bercanda bareng, tertawa, dan lagi Nadira sering kerumah. Nadira juga sudah menamatkan kuliahnya, sepertinya sudah sepantasnya dia punya peran menjadi ibu bagi Jasmine.” Ujar ayah mertuaku memberi penjelasan

Aku menghela nafas, aku menatap Nadira dari kejauhan, memang dia mirip sekali dengan Firdha, bahkan hampir seperti kembar identik. Aku memahami benar perkataan ayah mertuaku, baginya, aku sudah dianggap seperti anaknya, terlebih Firdha merupakan anak pertamanya.

“Dia memiliki rupa yang sama dengan Firdha, dia juga penyayang walau sedikit jutek,hehe. Tapi apakah menurut bapak Nadira mau?”

Ayah mertuaku menepuk pundak ku, dan berkata sambil tersenyum. “let the time will tells”

Aku tersenyum mendengar hal itu.

~

Tsundere: perubahan karakter seseorang yang awalnya dingin dan kasar perlahan menunjukkan sisi hangatnya dan mulai malu-malu

Tinggalkan komentar

Next Post

Padang Gencar Sosialisasi Perda AKB, Fasilitas Umum Jadi Target Utama

Rab Sep 16 , 2020
Padang, tabiknet – Sosialisasi Peraturan Daerah Adaptasi Kebiasaan Baru (Perda AKB) terus dimasifkan ke tengah masyarakat. Pemerintah Kota Padang telah melakukan sosialisasi di beberapa kecamatan sejak Sabtu (12/9) lalu. “Kita sudah melakukan sosialisasi ke enam kecamatan,” ungkap Kepala Kantor Kesbangpol Kota Padang, Eka Libra Fortuna, Rabu (16/9). Lima kecamatan yang […]

Baca juga :