Terbawa Suasana

Cerpen R-17

Terbawa Suasana (freepik)

Rumah itu jauh dari pemukiman, Randa hanya seorang bujangan bekerja sebagai tukang kayu harian. Namun setelah dia menyelesaikan proyek pemerintah, dia menjadi lupa diri dan suka foya2 hanya dalam waktu 1 malam saja.

Malam itu, randa menerima upah proyek penuh yang dia kerjakan. Banyaknya jumlah kertas yang ia pegang, membuatnya tergoda hanya sekedar berfoya-foya. Hanya sekedar?

Hari itu juga Fuji menelefon kekasihnya yang tahu kabar gembira itu. Dia berharap kekasihnya akan segera melamarnya setelah uang proyek tersebut cair. Namun, telefon tersebut tidak kunjung diangkat. Alhasil membuat wanita itu khawatir tentang apa yang dialami oleh kekasihnya itu.

Gundah, galau dan sesekali Fuji merasa begitu tidak tenang dengan telefon yang tak kunjung diangkat.

 “Mungkin randa sudah tidur, mungkin capek bekerja” pungkas ibunya Fuji.

Ditempat lain, gemerlap lampu LED menyala berkedip-kedip bak bintang benderang. Memancarkan cahaya hijau, terpantul ke sebuah bola yang ada diatasnya. Ditemani musik bertempo cepat berdentum kencang, mengisyaratkan adrenalin yang mesti di pompa.

Satu gelas martini begitu nikmat sebagai teman pelengkap bar disko perkotaan itu. Bar tender wanita itu merekomendasikan pilihannya pada sosok wajah baru yang dia temui. Seperti serigala penyendiri namun polos yang baru datang ke sebuah surga bagi “penikmat nafsu syahwat” tak heran bar tender itu dengan sigap memainkan mangsanya itu.

“Kenapa tidak tambah saja, satu gelas itu kurang nendang bagi pejantan tangguh seperti mas” goda dari bar tender itu.

“Oh ya, tentu saja ini belum cukup, bolehkah aku meminta satu kecupan lagi” balas randa

“Sure” bartender itu dengan sigapnya meramu sajian itu

“apakah adinda sudah punya pasangan” hasrat randa bertanya nakal

Bartender itu sekilas mengernyitkan dahi, namun tertutup oleh senyumannya pada randa. Dalam hatinya, dia seperti senang mendapat tangkapan bagus malam itu. Setidaknya mengajaknya untuk mengobrol adalah kesempatan baginya.

Tegukan demi tegukan diminum oleh randa, sembari obrolan mereka malam itu. Bartender itu menjalankan siasatnya, dia bertanya alamat rumah randa tapi randa tidak mau mengungkapkannya.

“Abang sepertinya sudah mabuk, apa perlu aku panggilkan taksi?”

“Ohya silahkan” randa menentukan titik koordinat tempat turunnya di ponsel genggam bartender itu. Randa akhirnya pulang sendiri dengan taksi yang dia pesankan. Namun sayang, histori perjalanan nya ada pada bar tender itu.

Keesokan harinya randa bangun, tubuhnya terasa berat dan letih, sekilas terlupa tentang kejadian semalam. Dia tersadar notifikasi telefon dari kekasih ya sudah 9 jam yang lalu. Alhasil randa menelefon kembali kekasihnya.

Randa mulai membuat obrolan hangat pada Fuji, bagi Fuji randa adalah pria sederhana. Ayah Fuji merupakan wirausaha sukses, tapi tidak memandang status apapun pada orang di sekelilingnya. Baginya semua orang adalah sama dan punya kesempatan yang sama juga untuk mendapat kesuksesan. Didikan tersebut sampai pada putra-putrinya, Fuji, linda, dan Heru. Dari mereka semua sudah berkeluarga kecuali Fuji si  anak yang paling kecil. Sifat ibunya lebih melekat pada Fuji, keibuan dan ramah pada semua orang. Wanita yang indah jelita, hodung sedikit lancip dan ada tanda berupa tahi lalat dibawah matanya.

Dalam telefon randa berbohong tentang kejadian semalam, walau juga kekasihnya juga tidak mengetahui keadaan malam itu. Fuji merahasiakan rencananya untuk datang bertamu ke rumah randa keesokan harinya. Dia membawa kejutan kecil yang mungkin saja membuat randa bahagia. Kejutan manis dari gadis itu sangat ditunggu-tunggu setiap pria. Ini juga menandakan sayangnya wanitanya terhadap lelakinya.

Randa menutup telefonnya, sembari melanjutkan aktivitas hariannya membuat mebel. Telefon berbunyi lagi, kali ini ada nomor yang tak dikenal menelefon randa. Katanya dalam telefon, ada barang tertinggal di diskotek. Randa kembali ke tempat tersebut…

“Semakin menikmati dentuman musik yang menggelora tanpa sadar aroma iblis meresap melalui pori-pori kulit. Tiap tegukan minuman membawa terbang mengawang, menampar, menggoda, mengelus, memanjakan sebuah jasad manusia. Tanpa terasa jasad tubuh itu kembali ke rumah bahkan menjadi dua bagian. Hingga pagi menjelang dua tubuh itu sudah terpapar pada ranjang yang sama”

Tok, tok, tok, bunyi pintu rumah membangunkan randa. Tanpa sadar ada sesosok tubuh ada disampingnya, dia bergegas membukakan pintu. Ternyata oh ternyata sosok itu adalah Fuji kekasihnya. Randa terkejut, seketika wajahnya pucat pasi dan kata-katanya berat terbata-bata. Fuji yang melihat reaksi randa, yang awalnya gembira menjadi curiga tentang apa yang terjadi. Fuji seketika berjalan menuju kamar randa namun itu tak mampu dihentikan randa.

Terkejut, bahkan semua rasa bercampur aduk, tak kuasa menahan rasa perih yang teramat dalam ketika ada sosok perempuan tanpa busana ada di ranjang randa. Wanita itu bangun lalu tersenyum sumringah.

Keinginan hati Fuji menangis, dia ingin cepat pergi dari sini.

Pikiran randa seakan kacau memandang jemari yang putus saat hendak meraih tangan Fuji. Seakan sosok yang dia cintai pergi begitu saja, tanpa kata perpisahan dan harapan untuk menyambung kembali benang terkulai dilantai. Randa frustrasi, dia mengejar Fuji namun wanita itu mengabaikannya. Fuji kembali masuk ke mobil, akhirnya tangan itu berhasil randa raih namun…

“Pergi kau bedebah, tak sudi aku bertemu denganmu lagi. Bersenang-senanglah kamu dengan wanita cumbuanmu itu” isak Fuji menyeru kearah randa

“Fuji, aku bisa jelaskan ini semuanya” randa meyakinkan wanitanya

“Omong kosong, untuk apa, aku sudah lihat tingkahmu semuanya, bede*ah kau”

Fuji menangis perih, dan masuk kembali ke mobilnya. Randa terdiam, hanya memandang orang yang dia cintai meninggalkannya. Dia kembali ke rumah namun….

Wanita penggoda itu sudah menghilang membawa semua barang-barang berharga yang ada dirumah tersebut.

Dalam hati randa “what i’ve done”

Dia melemparkan kursinya ke kaca jendela, dia mengamuk bukan kepayang. Tak kuasa melihat apa yang terjadi, saat orang yang dicintainya pergi, sedangkan rumahnya sudah kemalingan. Sudah jatuh tertimpa tangga, dan randa hanya menangis dan berteriak.

“Gila” ungkapan kepada seseorang yang sudah keluar dari kata normal.

Kecintaannya pada Fuji begitu besar, sehingganya dia sering berhalusinasi pada sosok tak berbentuk. Dia mendekap sebuah guling, dia sebut nama Fuji. Sehari-hari dia memasak makanan dia berbicara sendiri seolah-olah Fuji ada disampingnya. Kondisinya sadar, namun bukan “gila”

Dia masih bisa bercengkerama dengan orang lain, namun ketika pamit dia berkata bahwa istrinya memanggilnya?

Bahkan dia tidak segan untuk memperlihatkan foto istrinya kepada orang lain. Namun itu fana … Dia juga masih bisa terima order pintu dan furnitur lain tapi ….

Kerap memberikan hadiah kecil pada “kekasihnya”. Canda tawa dengan istrinya berlangsung pada malam hari.

Seperti sebuah halusinasi yang menganggap orang yang ada dalam bayangan matanya itu ada. Bahkan selalu terpikat untuk terus memberinya kasih sayang. Siang dan malam randa selalu menyebut nama Fuji, tanpa sedikit pun rasa lapar terasa.

Akhirnya, tubuh yang sedikit berisi lama-lama mengempis dan mengering. Tulang berulang seakan tampak, randa seolah tak berdaya, kesedihan terus menderanya. Randa duduk didepan rumahnya

Sebuah mobil Inova hitam itu mendekati rumahnya, sosok keibuan, hangat akan kasih sayang, berhidung mancung dengan tanda sebuah tahi lalat dibawah matanya datang menghampiri randa sekedar menyapa. Wanita itu tak kuasa menahan air mata, tak tega melihat randa dalam kondisi seperti itu. Wanita itu mengelus pipi randa, randa dengan mulut ternganga menoleh kepada wanita itu.

Tinggalkan komentar

Next Post

Coffee Morning Bersama Pemkab, KPU Dharmasraya Bahas Tahapan Pilkada

Sen Agu 24 , 2020
Dharmasraya, tabiknet – Bupati Dharmasraya, Sutan Riska Tuanku Kerajaan, memenuhi undangan Coffee Morning dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) Dharmasraya, Senin (24/08). Selain bupati, acara yang digelar di ruang Media Centre KPU tersebut juga turut dihadiri Kapolres Dharmasraya, Dandim 0310 SSD yang diwakili Koramil Pulau Punjung, Komisioner Bawaslu dan sejumlah pihak […]

Baca juga :