Sepatu Hak Tinggi di Sore Itu

Oleh: Novina Deliza

Gaungan sorak sorai hingga sirene yang terlahir dari sebuah pengeras suara membuat hampir semua orang di kantor menghentikan pekerjaannya, kemudian memperhatikan massa yang berkerumunan dari berbagai sudut tempat yang menghadap jalan raya.

Aku juga ikut menyelipkan diriku dari lantai tiga tepat di depan jendela kaca, yang tentu saja langsung membawa pandanganku pada spanduk-spanduk dengan tinta berwarna merah darah terpajang di depan gerbang. Hari ini bukan pertama kali aku dan orang-orang di kantor menyaksikan pemandangan ini. Bahkan dalam sebulan sudah lebih dari dua kali kejadian seperti ini terjadi.

“Heran, masih betah aja orang-orang” sebuah suara muncul di sebelahku. Lelaki dengan style klimis itu keliatan gusar sambil tetap memperbaiki dasi dan kemejanya. Matanya menyorot ke arah kamera-kamera pewarta yang masih setia merekam peserta aksi dengan yel-yel yang kreatif namun sarkas.

“Mending, dana penggantian dipercepat deh” seorang perempuan muda muncul dan berdiri disebelahnya. Lelaki yang tampak gusar itu tidak menjawab, ia hanya tetap memperhatikan kamera-kamera pewarta sambil sesekali memperbaiki dasi dan kemejanya lagi.

Hingga tiba-tiba perempuan di sebelah itu kembali menyahut, “itu Reno kan Ri?”

Aku tidak menjawab pertanyaan perempuan itu. Karena sudah jelas sekali jawabannya. Memang benar, pemandangan aksi ini memang bukan pertama kali dalam sebulan ini. Tetapi lelaki berkaos hitam yang saat ini sedang menyampaikan tuntutannya di depan pewarta itu membuat suasana hari ini begitu berbeda. Lelaki yang setauku sedang menempuh pendidikan di negeri seberang bertahun-tahun lalu, dan sekarang ia di sini. Lelaki itu mungkin saja akan menanyakan banyak hal padaku. Memborbardirku dengan sederetan tanda tanya. Jika dulu, hal itu pasti akan berakhir pada perdebatan. Tapi kini, mungkin tidak lagi. Aku hanya diam atau bahkan berperilaku pura-pura tidak mendengarkan. Seperti yang kujalani bertahun-tahun. Aku yang sudah begitu terlatih berpura-pura. Mudah saja, pikirku.  

***

“Kenapa harus pinjaman Bank sih bu?”

“Ya lalu bayar uang kuliah adek mu gimana?”

Seperti biasa, suara ibu kembali meninggi ketika ketidaksepakatanku dengan keputusannya terlontar begitu saja. Setelah jurus andalannya dikeluarkan, aku hanya bisa diam dan telfon hari itu diakhiri dengan pemberitahuan tanggal aku harus membayar pinjaman Bank dan jangan sampai terlambat. Aku hanya bisa pasrah dan bilang iya. Semenjak Bapak meninggal, memang tidak banyak pilihan yang tersedia. Termasuk pilihan untuk punya niat baik membantu orang-orang. Atau sekadar ikut aksi berteriak-teriak di depan istana dan menolak segala pelanggaran Hak Asasi Manusia yang dilakukan Negara. Atau sekadar membela orang-orang yang mengalami ketidaktahuan atas penggusuran toko hingga tempat tinggal mereka. Karena mungkin aku bisa menjadi bagian dari alasan kejadian yang tidak mengenakkan tersebut.

Seperti hari ini, aku melihat sekelompok manusia dengan pakaian hitam memenuhi taman aspirasi depan istana. Ada sepeda tua dengan beberapa nama aktivis yang hilang dan meninggal akibat kerusuhan bertahun-tahun yang lalu. Ada Ibu-Bapak yang walaupun rambutnya sudah memutih tapi tetap setia berdiri membela dan masih mempertanyakan perihal anaknya pada Negara.

Ponselku kembali bergetar. Sebuah pesan terpampang di layarnya. Sebuah foto dikirim Ibu, dokumen bukti peminjaman dari Bank. Aku menarik napas panjang untuk kesekian kalinya, karena memang hanya itu pilihan yang kupunya. Kemudian aku bergegas melangkah, hingga tiba-tiba sepatu hak tinggiku harus berhenti ketika mendengar suara yang kukenal memanggilku.

“Ri kemana?”

Reno muncul ke hadapanku. Dengan senyum ramah, Ia menunjuk ke arah titik aksi di seberang jalan.

“Ayo!” ajaknya sekali lagi dan menarik tanganku lalu memaksaku menyeberang jalan. Namun, dengan sopan aku menggeleng pelan.

“Aku harus kembali ke kantor” Ucapku tenang. Dia menatapku sebentar lalu tersenyum mengerti.

Sore itu di bawah langit istana yang mulai mendung, aku berjalan menjauh darinya.

***

Sekelompok perempuan muda yang berjalan beriringan berhasil membuat kesalku saat ini bertambah.

“Maaf mbak” Ucap salah satunya dengan santai kemudian kembali berjalan menyusuri gerbong kereta mencari tempat duduk yang kosong mengikuti teman-temannya.

Entah untuk keberapa kali hari ini, aku kembali menarik napas panjang. Lalu membungkuk mengambil ponselku yang tergeletak di lantai kereta. Sebuah panggilan yang belum juga tersambung terpampang pada layarnya.

Sebuah teriakan kembali bergumam di telingaku. Bayangan beberapa alat berat dengan santai menghancurkan kios-kios di depannya cukup membuatku merinding. Kejadian beberapa jam yang lalu juga menunjukkan para aparat berpakaian seragam lengkap hingga berpakaian preman berhasil menghadang warga yang bersikeras. Mereka bersikeras untuk mempertahankan tempat mereka mencari hidup berpuluh-puluh tahun lalu. Hingga yang tak jauh lebih keras ialah tangisan para ibu-ibu yang beberapa di antaranya sedang menggendong sang anak. Tangisan yang seolah-olah berbicara pada anaknya ‘kita harus hidup dengan apa besok?’

Mataku memanas bersama dengan genggaman ponselku yang ikut mengeras. Hingga dering ponselku berhenti  digantikan suara lelaki di ujung telfon.

“Dimana?”

“Di kantor”

Panggilan berhenti. Nafasku kembali menderu ketika sebuah tatapan kembali keingatanku. Tatapan Reno berhasil membuat mataku yang tadinya memanas menjadi kabur. Aku menggosok-gosok mataku lalu suara operator kereta mengingatkan stasiun pemberhentian selanjutnya, stasiun pemberhentianku.

Setelah turun dari kereta aku tidak tau dengan pasti apa yang terjadi selanjutnya. Hingga kudapati diriku dengan napas yang memburu,  berdiri di belakang seorang lelaki yang sedang menuang kopi instant ke sebuah gelas.

“Lalu, apa gunanya perencanaan penambahan dana penggantian kalau yang terjadi juga akan seperti ini?” suaraku yang bergetar berhasil membuat lelaki dengan kemeja biru muda itu memutar badannya lalu menatapku.

“Kamu tau dengan persis, kalau ini gak perlu diperdebatkan?” ucapnya santai lalu kembali sibuk menuang air panas ke dalam kopinya.

“Dan kamu juga tau dengan persis, kalau kejadian hari ini gak bakal bikin semuanya selesai. Mereka gak akan berhen…”

Gelas dengan campuran air panas dan bubuk kopi mendarat tepat di depan kakiku. Lelaki dengan kemeja yang sudah tidak licin itu, memutar pandangannya lalu berhenti tepat di manik-manik mataku. Menatapku lekat-lekat.

“Kayaknya, semua orang di kantor ini juga tau. Kalau proyek ini berhasil, bukan Cuma gue yang diuntungin, LO JUGA!”

Saat itu, aku kehilangan diriku.

Setelah pintu tertutup, aku berjalan cepat menuju jalan pulang. Aku ingin cepat sampai di kontrakan. Aku ingin teriak sekencang-kencangnya dan membenamkan wajahku ke dalam ember yang penuh terisi air. Namun, di sebuah trotoar di depan stasiun aku berhenti. Aku rasakan panas yang sangat pada mata kaki dan tumitku. Mataku yang memanas akhirnya menjadi kabur. Penglihatanku sudah tidak jelas lagi. Air mata menutupnya. Di sebuah pagar besi pembatas jalan dan stasiun aku menangis sejadinya-jadinya. Jalanan semrawut di depanku syukurnya mampu meredam suara tangisan yang hari ini dengan beraninya keluar dengan lantang. Karena biasanya, aku hanya berani terisak pelan dalam kamarku yang kecil. Dan hal yang paling aku sesalkan adalah ‘aku kenapa’. Aku tidak biasanya menitikkan air mata hanya karena tumitku sakit atau bahkan sudah lecet. Bukankah aku sudah terbiasa berlari dengan sepatu hak tinggi yang entah sejak kapan kugunakan dan menggantikan sepatu-sepatu taliku yang terkadang kebesaran itu. Aku sudah menikmati semuanya.

Lalu kenapa hari ini? Kenapa semua terasa berat?

Dan tiba-tiba aku merindukan saat-saat bersama Bapak. Aku merindukan hidup di rumah kontrakan bersama Ibu, Bapak dan juga adik lelakiku. Akan tetapi, rasa rindu itu tetap tidak ingin membawaku untuk kembali tinggal di tempat itu. Karena, mungkin saja kami akan terbelit hutang lagi. Karena, mungkin saja yang akan aku temui adalah orang-orang berpakaian preman yang siap mendobrak pintu kapan saja.

Dalam tangisku yang sekarang berubah menjadi isak pelan, aku ketakutan.

Tanganku yang gemetar tiba-tiba terasa hangat. Sebuah tangan mengenggamnya dengan pelan. Reno tiba-tiba muncul di hadapanku. Dengan kaget aku menepis tangannya dan membersihkan sisa-sisa tangis di kedua pipi sambil memperhatikan lelaki tersebut yang sekarang berjongkok, melepas sepatuku, menemukan goresan-goresan luka di sana.

“Gue gak punya apa-apa buat dijelasin, ke elo!” ucapku ketus.

Reno tidak merespon ucapanku. Ia mengeluarkan sebuah obat oles dari ranselnya. Lalu mengoleskannya dengan pelan. Setelah selesai lelaki itu berdiri di sebelahku. Menatapku sebentar lalu pandangannya tertuju pada jalan raya dan kios-kios pedagang di sebelah kiri-kanan.

Dalam hening yang cukup lama, tanpa suara, Reno membawaku menyelami dan menyusuri masa lalu. Di masa itu aku menemukan diriku di dalamnya. Seorang perempuan dengan baju kaos dan jeans kebesaran dan tidak lupa kemeja kotak-kotak yang terikat dipinggangnya. Perempuan yang dengan santainya memegang sebatang rokok lalu menghisapnya dalam-dalam itu melihat gelombang-gelombang pagar besi yang dipasang aparat kepolisian. Ia juga melihat sebuah mobil water canon yang sudah terparkir dan juga siap mengguyur para barikade-barikade hidup yang mencoba nakal.

Aku kembali memutar pandanganku, bertemu dengan ibu penjual kaos kaki dan di sebelahnya seorang Bapak tua yang sedang menawarkan barang dagangannya pada anak-anak kecil yang lewat.

“Ingat Bapak dan Ibu itu?” Seperti bisa membaca pikiranku, Reno bertanya. Namun, lelaki itu tidak melanjutkan karena Ia tau dengan sangat. Aku mengingatnya.

Delapan tahun yang lalu, pembangunan stasiun, pengerusakan yang dilakukan aparat, pedagang yang hampir digusur hingga rombongan mahasiswa yang ikut sikut-sikutan dengan aparat.

Bagaimana aku bisa tidak mengingatnya, kalau ternyata aku adalah bagian dari rombongan mahasiswa itu.

“Aku gak tau, seberapa banyak pilihan yang kamu punya setelah kelulusan kita”

Ia berujar lagi, kali ini bersamaan dengan tatapan tajamnya yang tepat padaku. Aku menatap sekilas sorot mata tajam itu lalu mengalihkan pandangan menatap langit yang mulai gelap. Dan bersyukurnya aku ketika mendengar suara rintik hujan menyelinap masuk di antara kami berdua.

Aku dan Dia bergegas berdiri dan mencari tempat berteduh. Dia berlari ke arah kios kecil di Samping jalan. Sialnya, aku memungut sepatu hak tinggiku kemudian berlari menyusuri trotoar dengan cepat lalu masuk ke Stasiun.

Seperti itulah hari itu berakhir. Karena seperti yang sudah kukatakan dari awal. Aku tidak akan menjelaskan apa-apa.

*SELESAI*

Tinggalkan komentar

Next Post

Padang Gagas Rumah Ibadah Digital

Jum Agu 21 , 2020
Padang, tabiknet – Pandemi Covid-19 membuat hampir semua kegiatan dialihkan secara virtual. Akibatnya, pengguna serta akses internet meningkat dari biasanya. Keluhan dari masyarakat pun bermunculan. “Iya, biaya untuk beli internet untuk anak belajar di rumah jadi membengkak, terkadang harus minta hotspot ke yang lain,” jelas Tin, seorang warga asal Kuranji. […]

Baca juga :