Pertarungan Suami Martalina

Cerpen Delvi Yandra*

Ilustrasi (freepik)

Gustav menyeka wajahnya dengan ujung lengan kemeja yang tampak longgar, lalu menjatuhkan tatapannya pada Martalina sebagaimana istrinya itu datang dengan membawa cerek dan bungkusan nasi. Ia bertanya seperti seseorang yang penuh dengan kecemasan.

“Ada apa istriku?”

Martalina tak menjawab. Ia hanya menekuk bahu lebarnya ke arah gundukan tanah, dimana ladang-ladang jagung membentang sejauh pandangan matanya. Ia mendongak, sisa keringat berkilauan di lehernya. Dengan bekas garis-garis kerutan kemerahan di sekitar wajahnya, ia meringis dalam kesakitan yang ditahan. Ia menekan perutnya yang besar dengan sebelah tangannya. Cerek air terlepas dari tangannya yang lain.

Gustav tak mampu menahan rasa penasaran sehingga ia melepas cangkulnya lalu pindah ke sisi gundukan di dekat Martalina tersungkur. “Ada apa dengan kau, istriku?”

Langit berwarna debu, dengan sinar matahari yang berusaha merangsek ke celah-celah pepohonan jagung. Daun-daun jagung sesekali bergesekan sehingga menimbulkan suara-suara yang aneh.

Martalina menatap suaminya dengan letih. Ia terus mengerang kesakitan. Ia menggeliat. Tangannya menjulur ke permukaan tanah dan meremasnya dengan keras. Dengan upaya demikian, ia berjuang untuk mengendalikan dirinya sendiri.

“Gustav, berhentilah bekerja. Itu tidak akan menunggu waktu lama!” Tukas Paulo, pembantu Gustav yang tiba-tiba melemparkan cangkulnya lalu mendekati Gustav.

Sungguh memalukan apa yang sedang terjadi. Martalina menekuk lututnya yang lemah ke gundukan tanah. Ia terus menekan perutnya yang besar. Sesekali rasa sakit itu hilang, kemudian kembali lagi dengan rasa sakit yang lebih hebat.

“Ayo, lekas bawa istrimu pulang!” Paulo kembali berteriak dan panik.

Rasa sakitnya tiba-tiba berhenti, Gustav meraih lengan istrinya dan membantunya berjalan ke sisi parit batas ladang pertanian yang cukup teduh. Paulo mengikuti mereka dari belakang.

“Tolong bantu aku membaringkannya.” Pinta Gustav kepada Paulo.

“Tuhan mendengar doa istrimu!” Ujar Paulo kemudian.

Dengan segala daya, Martalina melenguh. Ia teringat suatu kejadian di malam pertama pernikahannya dengan Gustav bahwa ia bermimpi melihat cahaya yang memancar dengan lembut sehingga mampu menerangi dunia dan seisinya. Seolah-olah ia melihat sebuah istana yang megah. Ia lebih terkejut lagi setelah terdengar ada suara yang berbisik ke telinganya, pada mimpi itu, dikatakan bahwa kelak ia akan mengandung seorang anak lelaki yang berbakat, kuat dan berpengaruh hingga ke negeri-negeri jauh. Seorang anak lelaki yang diramalkan akan mengabarkan berita baik.

Martalina tidak pernah lupa dengan suara yang membisikinya malam itu. “Ya, setelah sekian lama,” jawab Martalina menimpali Paulo.

Gustav tidak peduli dengan omelan istrinya. Ia berdiri tegak di samping selokan, memandang ke sekelilingnya. “Paulo, segera mintalah bantuan Nur.”

“Ya Tuhan!” Paulo terkejut, seraya berlari menuju rumah Nur, bidan yang biasa membantu persalinan di desa itu. “Oh tidak!” Ia menggerutu dan melangkah dengan tergopoh-gopoh.

Cahaya matahari jatuh penuh ke seluruh ladang jagung. Air di selokan pun tampak lebih terang dan berkilauan. Panas udara sampai juga terasa ke tempat Martalina dan suaminya berteduh. Suara-suara aneh dari daun jagung yang saling bergesekan hampir tak terdengar lagi.

Gustav berpikir dan meyakini bahwa Paulo tidak akan sampai tepat waktu. Sementara, Martalina melenguh dan mencengkeram bahu suaminya dengan sangat kuat. Gustav tahu bahwa kejadian ini akan tiba. Ia mengosongkan saku celananya, mengeluarkan beberapa benda dari sana; benang, beberapa potong kain berukuran kecil, pisau, garam dan jeruk lemon.

Semua benda itu telah ia siapkan sejak perut istrinya mulai bengkak. Dan kini, cengkeraman tangan Martalina semakin kuat dan kencang. Kakinya menendang-nendang gundukan tanah. Gustav meraih kaki istrinya sehingga ia terdorong ke belakang. Martalina mengerang dan menggelinjang. Gustav menyongsong kaki istrinya itu dan terdorong kembali.

“Oh Tuhan! Lihatlah. Ia seorang putra!” Ucap Gustav penuh rasa syukur sambil meraih anaknya dengan hati-hati. Martalina masih tersengal-sengal meringis menahan sakit. Wajahnya pucat dan tampak lelah sekali. Ia hampir tak mendengar apa yang dikatakan suaminya.

Gustav lekas memotong jeruk lemon menjadi dua, meletakkan kain di atas tanah. Lalu, ia memeras lemon ke sekitar wajah bayi itu dan menggosoknya dengan garam. Gustav berlutut, meraih tubuh bayi itu dan membalutnya dengan kain yang lain.

Tiba-tiba, ia mendengar suara gemerisik dari celah pohon jagung. Suara yang begitu cepat. Gustav berbalik dan memastikannya.

Seekor anjing besar muncul!

Anjing itu melompati selokan. Tubuhnya kekar dan kasar. Ia berdiri tegap. Anjing besar itu terlihat sangat mengancam. Gerakannya cukup agresif. Beberapa kali melompati selokan dan berputar di sekitar Gustav.

Gustav cemas. Bagaimana nanti kalau bayinya menangis dan ia pingsan? Mungkin bisa saja anjing itu merobek-robek anaknya. Gustav menatap anjing besar itu dengan cermat. Anjing itu pun menatapnya sambil mendengus dengan cepat.

“Anjing brengsek sialan!” Katanya.

Dengan enggan, anjing besar itu menjauh lalu duduk dan mendengus lagi. Ia tidak menggonggong sama sekali. Hanya suara napasnya begitu cepat keluar masuk dari mulutnya yang basah.

Pada saat itu, Gustav merasakan kepalanya menjadi berat. Sambil menahan lelah, ia terdorong dan jatuh terduduk di tepi selokan. Tangannya bertumpu ke tanah.

Wajahnya menunjukkan raut ketakutan seolah-olah seluruh dunia telah runtuh di depan matanya. Ia ingat suara yang membisiki istrinya. Suara yang lembut dan jelas. Ia percaya mimpi Martalina bukan omong kosong belaka. Dilihatnya lagi istrinya. Ia mengutuk peristiwa yang memalukan ini. Keringat dingin mengucur dari kepalanya. Kemudian mengalir di alisnya yang tebal dan lebat.

Anjing besar itu berdiri, berputar dan melompati selokan. Lidahnya menjulur meneteskan air liur. Hidungnya yang basah terus mengendus-endus udara. Sementara, Gustav berusaha meraih batu-batu di sekitarnya lalu melempari anjing besar yang terlihat kelaparan itu. Gustav tidak berhenti melemparinya.

Ia mencoba berdiri dengan bertumpu pada gundukan tanah yang agak tinggi, menendang anjing itu sekuat tenaga. Ia hampir gila dengan seekor anjing besar yang sedari tadi mengitari ladang jagung, melompati selokan sambil menjulurkan lidahnya yang basah.

Gustav kembali melesatkan kakinya ke tubuh anjing besar itu. Dan meleset.

Anjing besar itu menggigit kakinya dan lekas beralih pergi ke balik jejeran pohon jagung setelah satu tendangan Gustav mengenai tubuh anjing itu. Gustav merasa lega dan kesakitan. Ia mengangkat kepalanya ke langit. Senyum memenuhi wajahnya yang kasar dengan sukacita. Setidaknya, anjing besar itu telah pergi.

“Lihatlah istriku. Ia seorang putra!” Seraya memapah kakinya yang penuh darah.

“Akhirnya mimpiku.”

Seperti yang pernah diceritakan Martalina kepada suaminya berulang kali, di dalam mimpinya. Ia mendengar suara bisikan datang dari cahaya yang begitu terang dan putih. Suara yang lembut dan tegas itu menggetarkan telinganya. Semakin lama, mimpi itu semakin sering datang ke dalam tidur Martalina. Suara itu semakin jelas terdengar.

Paulo juga sering mendengar cerita tentang mimpi itu dari Martalina. Hampir setiap hari, selama bertahun-tahun, Paulo mendengar ocehan Martalina. Sampai ia berpikir barangkali perempuan ini sedang mengalami hari-hari yang berat sepanjang hidupnya. Bahkan Paulo hampir tidak peduli dengan mimpi itu.

“Tunggulah!” Ucap Martalina seraya meraih tangan suaminya. “Sebentar lagi Paulo datang. Tunggulah suamiku…”

Gustav mulai sempoyongan. Tak dinyana, Gustav tersungkur di gundukan tanah retak yang berwarna merah. Di dalam jangkauan pandangannya, langit berwarna tanah. Pohon-pohon jagung begitu kokoh berjejeran.

Dilihatnya bayi itu, di sisi istrinya, bersih dan cemerlang. Matanya biru memancar seperti mata air. Hidungnya sedikit bengkok berpadu dengan wajahnya yang cerah dan kemerahan. Telapak tangan dan kakinya begitu tebal dan halus. Betapa tampannya ia.

Gustav tak mampu menahan darah yang merembes di kakinya. Segala yang dilihatnya menjadi gelap seketika dan dengung suara Martalina tak lagi ia dengar dengan jelas.

“Tunggulah. Sebentar lagi. Suamiku. Tunggulah Paulo.” Ucap Martalina dengan kedua tangannya yang berusaha bertumpu pada sesuatu.

Gustav berjuang menjaga kesadaran seraya memegang kakinya dengan sekuat tenaga, di dekat istrinya. Telinganya berdengung keras sekali. Dadanya terasa berat sekali. Kakinya mati rasa. Pandangannya sudah tak mampu menjangkau apa-apa lagi. Semuanya begitu gelap. Hanya dengung yang begitu keras terdengar dari lobang telinganya. Dengung seperti suara bisikan.

Lalu, suara bisikan itu. Suara bisikan seperti yang diceritakan istrinya. Ia mendengarnya. Suara bisikan itu lebih terdengar seperti dengus napas anjing. Suara itu semakin jelas terdengar. Juga suara dengung itu. Gustav tak merasakan kehadirannya tetapi ia mendengarnya. Ia ketakutan tetapi tak berdaya. Ia ingin melempari suara dengus itu dengan batu tetapi tangannya seperti terhimpit oleh kayu yang begitu besar.

“Tunggulah. Paulo akan datang.”

“Terpujilah Tuhanku! Terpujilah anakku!”***

Ujung Tanjung, 2019 – 2020

*Delvi Yandra, lahir 10 Desember 1986 di Palangki, Sumatra Barat. Menulis cerpen di beberapa media lokal dan nasional serta dalam beberapa antologi cerpen. Kini, bekerja dan menetap di Bagansiapiapi sebagai karyawan Bank BRI.

Tinggalkan komentar

Next Post

Todas las Vegas Tarnished Hole Miniature Installation Imperative Overview

Kam Agu 6 , 2020
Web betting house poker on-line will be had fun with a very important holdem poker system associated with intellectual often.

Baca juga :